Posted by: 3koari | March 24, 2008

Dampak Mouse Optik Bagi Kesehatan

Tetikus atau yang lebih dikenal dengan nama mouse adalah alat yang digunakan untuk memasukkan data ke dalam komputer selain papan ketik. Tetikus berbentuk seperti seekor tikus sehingga dalam bahasa Inggris peranti ini disebut mouse.

Tetikus pertama kali dibuat pada tahun 1963 oleh Douglas Engelbart berbahan kayu dengan satu tombol. Model kedua sudah dilengkapi dengan 3 tombol. Pada tahun 1970, Douglas Engelbart memperkenalkan tetikus yang dapat mengetahui posisi X-Y pada layar komputer, tetikus ini dikenal dengan nama X-Y Position Indicator (indikator posisi X-Y).

Bentuk tetikus yang paling umum mempunyai dua tombol, masing-masing di sebelah kiri atas dan kanan atas yang dapat ditekan. Walaupun demikian, komputer-komputer berbasis Macintosh biasanya menggunakan tetikus satu tombol.

Tetikus bekerja dengan menangkap gerakan menggunakan bola yang menyentuh permukaan keras dan rata. Tetikus yang lebih modern sudah tidak menggunakan bola lagi, tetapi menggunakan sinar optikal untuk mendeteksi gerakan. Selain itu, ada pula yang sudah menggunakan teknologi nirkabel, baik yang berbasis radio, sinar inframerah, maupun bluetooth.

Saat ini, teknologi terbaru sudah memungkinkan tetikus memakai sistem laser sehingga resolusinya dapat mencapai 2.000 titik per inci (dpi), bahkan ada yang bisa mencapai 4.800 titik per inci. Biasanya tetikus semacam ini diperuntukkan bagi penggemar permainan video.

Bahaya Mouse Optik

Kenyamanan optical mouse ternyata mempunyai efek samping yang berbahaya. Tiga tahun semenjak peluncuran pertama optical mouse oleh
microsoft, telah ditemukan ribuan kasus kelainan pada jaringan tangan akibat radiasi yang dipancarkan mouse.


Optical mouse bekerja dengan memancarkan gelombang elektromagnetik frekuensi tinggi ke permukaan di bawahnya. Frekuensi yang digunakan jauh lebih tinggi dari pada pada handphone.
Telah diketahui secara luas bahwa telapak tangan dan kaki merupakan pusat ujung-ujung syaraf tubuh. Radiasi yang dirasakan oleh telapak
tangan bisa berpengaruh fatal pada kesehatan, karena menurut laporan WHO radiasi dari mouse setara 5 kali radiasi handphone. Akan tetapi radiasi mouse menjadi berbahaya karena dipegang terus menerus oleh pemakai komputer.“WHO, GreenPeace, dan CNN sudah menghentikan penggunaan optical mouse
untuk seluruh kegiatan di kantornya, sementara Microsoft dan IBM mengucurkan dana sekitar 2milyar dolar untuk kerjasama pembuatan
pointing device yang lebih aman. Industri-industri hardware terbesar di cina dan Taiwanberusaha menutup-nutupi hal ini.

Jika diperhatikan,
mouse-mouse optical yang beredar di pasaran saat ini diproduksi oleh merk-merk yang tidak terkenal, padahal itu hanyalah sisa produksi
industri besar yang sudah menghentikan penjualan.”

“Untuk itu, cobalah memegang mouse hanya di saat diperlukan saja.
Berlatihlah menggunakan Hotkey (Ctrl-C, Ctrl-V untuk kopi paste).
Kembalilah menggunakan mouse model lama (bola)”.

Posted by: 3koari | March 3, 2008

Peran Komputer Pada Mobil

MUNCULNYA mobil baru, hampir selalu diikuti teknologi lebih maju. Karena itu, teknologi tidak pernah berhenti dipacu maju. Bahkan pabrik-pabrik mobil seperti harus berpacu dengan waktu untuk saling mengungguli satu sama lain di bidang teknologi. Pembeli pun tahu, bila ada mobil berteknologi lebih maju, untuk apa memilih yang berteknologi kuno? Bagaimana-pun juga, perlombaan teknologi maju pada dunia otomotif, ternyata memberi manfaat berarti bagi pembeli.Selama 20 tahun terakhir, perangkat dunia otomotif mengalami kemajuan luar biasa.

Juga komputer, yang semula sebesar rumah, kini bisa tampil lebih ringkas dengan kemampuan 100 kali lebih besar dari dulu. Kemajuan teknologi komputer itu pun kini dimanfaatkan para ahli untuk menyempurnakan kinerja otomotif. Kenyataannya, penggunaan komputer high tech banyak memberi keuntungan pada manusia. Mobil lebih nyaman dikendarai, lebih hemat bahan bakar, dan ramah lingkungan karena pembakaran menjadi lebih sempurna.
Ada banyak teknologi maju yang sudah diterapkan pada mobil, sebagian lagi masih dalam taraf pengenalan. Teknologi hibrida, misalnya, yang menggabungkan mesin dan listrik, mendapat tanggapan positif. Atau mengemudi tanpa menyentuh roda kemudi (hands free) yang sempat dicoba dari Los Angeles ke San Diego, guna mengatasi kejenuhan pengemudi melintas benua. Atau munculnya accu 42 volt pengganti accu 12 volt, akan membuat komponen listrik, makin kecil. Teknologi ban fax flat Michelin, yang masih mampu menggelinding 200 kilometer tanpa angin, atau mobil listrik yang hemat dan tanpa mengeluarkan emisi gas buang beracun, merupakan kemajuan-kemajuan yang sudah ada di sekitar kita.

Mengatasi Kaget

Kini, DaimlerChrysler, General Motor, dan BMW, sudah menggunakan sistem stabilitas elektronik, yang membuat mobil tetap stabil meski kemudi dibanting ke kiri atau ke kanan guna menghindari orang menyeberang atau hewan yang melintas secara tiba-tiba.
Sistem sensor pada roda dan kemudi, akan mengirim sinyal ke komputer, dan komputer akan mengatur rem agar putaran roda tidak tergelincir dan pengemudi tetap dapat mengendalikan kendaraannya.
Bila temuan ini digabungkan dengan sistem radar atau sinar laser, maka sistem ini bisa mengambil alih peran sopir dari roda kemudi. Asyik juga! Suatu saat kita bisa tidur dan membiarkan mobil berjalan sendiri. Digunakannya sinar laser atau radar, akan menghindarkan kendaraan dari tabrakan. Seluruh kendali akan diambil alih komputer, seperti mengerem, mengurangi kecepatan, dan menghindar sendiri bila ada dari samping tiba-tiba ada orang menyeberang.

Ban Pintar
Selain di bidang mekanik dan mesin, komponen mobil yang lain juga mengalami kemajuan. Pabrik ban Michelin, beberapa waktu lalu memperkenalkan ban yang tetap bisa dioperasikan sejauh 200 kilometer meski tanpa angin. Ban model ini sudah digunakan pada mobil mewah Mercedes dan Lexus. Dengan adanya ban seperti ini, pengendara tidak perlu khawatir bila tiba-tiba bannya kempes, ia bisa mencari tempat aman untuk menggantinya.
Kini, pabrik ban Firestone mengumumkan penemuan ban pintar. Di dalam roda ada “pemancar” sekaligus sensor. Sensor itu akan mendeteksi tekanan angin dari tiap ban dan akan mengirim sinyal ke panel di depan pengemudi. Mata pengemudi dengan mudah bisa membaca tekanan tiap roda, dan dengan demikian membantu pengemudi untuk segera menambah tekanan angin.
Temuan ini dirasa perlu mengingat tekanan angin ban yang tidak sama menjadi penyebab mobil tidak stabil. Bila tekanan angin ban tidak sama, mobil akan mudah slip bila dipacu dalam kecepatan tinggi.

AVL

Kini produsen otomotif mengembangkan AVL (automatic vehicle location) yang menggunakan fasilitas Global Positioning System (GPS). Teknologi AVL sudah banyak digunakan pada mobil di Eropa, Jepang, dan Amerika, amat bermanfaat untuk mencari alamat rumah atau membelokkan mobil mencari jalan alternatif menghindari kemacetan.
Sebuah sistem telematik yang dihubungkan dengan satelit, akan memudahkan seseorang menemukan lokasi di darat. Untuk menggunakan teknologi ini, mobil harus dilengkapi alat penerima sinyal dan peta standar yang ditampilkan di layar monitor komputer.
Selain itu, AVL juga memiliki memori yang bisa membantu pengemudi yang belum mengenal lokasi. Bila melalui daerah yang belum diketahui, pengemudi bisa menyimpan datanya hanya dengan menekan tombol. Nantinya, data itu akan dapat digunakan orang lain yang belum pernah mendatangi lokasi itu. Untuk mobil-mobil built up dan mewah yang berseliweran di Indonesia dan dilengkapi AVL, alat ini belum bisa digunakan karena fasilitas lainnya belum ada.

Pengaman Tabrakan

Teknologi maju pada otomotif juga dimaksudkan untuk mengamankan penumpang di dalamnya bila terjadi tabrakan. Mercedes Benz dan Toyota sudah memasang sistem pengontrol jarak.
Dengan demikian pengemudi dapat menentukan, berapa jarak yang diinginkan dari mobil yang ada di depannya. Komputer akan mengatur untuk mengurangi kecepatan hingga mendekati limit jarak yang diinginkan. Peralatan ini juga sudah banyak dipasang, untuk keperluan parkir. Bila Toyota menggunakan sistem sinar laser, Mercedes Benz menggunakan sistem radar.

Transmisi Otomatik

Dunia otomotif kini juga mengembangkan teknologi transmisi otomatik lima kecepatan. Selama ini, transmisi otomatik yang ada pada mobil umumnya baru empat kecepatan. Dengan temuan baru ini diharapkan membantu para pengendara bila menghadapi jalan macet. Namun, kenikmatan ini juga harus dibayar dengan konsumsi bahan bakar yang lebih banyak alias boros hingga 10 persen.

Sistem baru pada transmisi yang dilengkapi Electronic Control Transmission (ECL) ini juga memperbaiki pemindahan daya slip yang selama ini bisa terjadi pada transmisi otomatik, bentuknya menyerupai kopling slip.

”Variable Compression Vehicle”

Perusahaan otomotif dari Eropa, SAAB grup, mengumumkan penggunaan mesin rekayasa terbaru. Rekayasa ini mengubah anggapan orang bahwa cylinder head mobil dikancing dengan baut pada blok mesin. Maka jangan kaget, bila suatu saat melihat cylinder head bergerak turun-naik sesuai RPM mesin. Inilah teknologi yang membuat mobil memiliki multi compression yang sudah diaplikasikan pada beberapa produk SAAB grup.
Selama ini kita hanya tahu, mobil memiliki perbandingan kompresi tetap. Sebuah mobil dengan perbandingan kompresi 1:9, dalam keadaan apa pun, perbandingan kompresi tidak bakal berubah, dan cocok untuk putaran serta kecepatan rendah. Sedangkan, mesin dengan perbandingan kompresi 1:12 mempunyai karakter RPM tinggi dan cocok untuk mobil berkecepatan tinggi. Dengan demikian terjadi kerugian yang mengakibatkan mesin tidak bekerja optimal.
Untuk itu SAAB grup membuat mesin dengan perbandingan kompresi mulai dari 1:8 hingga 1:12, bahkan bisa lebih variatif lagi, dan menghasilkan mesin yang efisien. Ternyata hal ini dimungkinkan karena SAAB menggunakan sistem pengatur naik turunnya cylinder dan cylinder head yang diletakkan di dalam mesin.
Cylinder head yang telah menyatu dengan cylinder akan naik-turun terhadap blok mesin. Manfaat mesin ini, meski agak rumit, amat hemat bahan bakar hingga 30 persen. Dan pengaturan ketepatan perbandingan kompresi, saat mobil berjalan lambat maupun kencang, diatur oleh komputer.

Mesin Ringkas

Selama 100 tahun, ahli-ahli mesin menggunakan rantai, roda gigi, dan belt gabungan dari nilon dan karet untuk menghubungkan bagian-bagian mesin. Salah satunya untuk penggerak klep mesin mobil. Tidak lama lagi sistem ini akan ditinggalkan karena Siemens, raksasa elektronik dari Jerman, sudah menyiapkan teknologi elektronik penggerak klep. Sebuah kotak elektronik akan disatukan dengan setiap klep mesin mobil, dan sistem elektromagnet yang ditimbulkan kotak itu akan menggerakkan klep naik dan turun sesuai periode kerja.
Lagi-lagi komputer mengambil alih peran mekanikal dan tingkat ketepatan kinerja mesin pun makin tinggi. Penggunaan komponen elektrik ini selain membuat konstruksi mesin lebih sederhana, juga menghasilkan penghematan bahan bakar dan kontrol emisi gas buang. Dengan demikian, Electronically Controlled Valve (ECV) buatan Siemens ini akan menghilangkan banyak bagian dari mesin.
Bila ECV digunakan pada mesin Kijang, maka tidak diperlukan lagi roda gigi yang ada di kruk as (crank shaft gear), noken as dan roda gigi (camshaft dan gear) lifer, push rod, rocker arm, dan membuang beberapa seal oli. Bahkan, saluran yang ada dalam konstruksi mesin pun akan menjadi lebih sederhana.
Selain itu beberapa penekan timing belt atau pengontrol rantai yang digunakan untuk menjaga ketepatan kerja komponen itu, akan hilang. Distributor juga tidak lagi digunakan. Tugas distributor untuk membagi arus ke busi, diambil alih komputer.

Bukan mustahil, suatu saat komponen penggerak klep yang dibuat secara elektronik akan menyatu dengan komponen koil untuk busi. Apalagi dengan digunakannya accu 42 volt pengganti 12 volt pada tahun 2003, maka komponen elektrik pada mobil akan makin kecil. (Ternyata sampai tahun 2007 ini, belum ada tanda-tanda akan segera menggunakan accu 42V)

Apabila tekanan angin ban tidak sesuai spesifikasi atau keempat ban mobil menunjukan tekanan angin yang tidak sama satu sama lainnya maka akan tampak pada panel ini. Kita lantas menambah angin agar pengereman pakem dan mobil menjadi stabil. Teknologi ini sudah digunakan pada mobil mewah dan VIOS terbaru.

Pada bagian dalam ban ada sensor. Sensor inilah yang akan mengirimkan signal ke komputer seberapa besar tekanan angin ban dan hasilnya tampak pada panel diatas.

Direncanakan pada suatu saat, orang dengan mudah merubah mobil lamanya menjadi mobil Hibrida dengan mengganti komponen mesin, yaitu fly wheel. Bagian ini akan berfungsi sebagai generator yang menghasilkan arus untuk pengisian aki dan pada kesempatan lain digunakan untuk menghidupkan mesin berfungsi sebagai starter.

Sebuah sensor sinar yang ada dihadapan anda akan memperjelas objek yang jauhnya sekitar 200 m, dalam kondisi gelap sehingga anda bisa mengantisipasi situasi ini.
Teknologi Airbag Semakin Canggih
Penggunaannya Mesti Dipadu dengan Sabuk Pengaman
MESKI pemerintah Indonesia belum mewajibkan perangkat kantong udara atau airbag sebagai perlengkapan standar bagi kendaraan roda empat, namum model baru yang dilengkapi peranti ini semakin banyak. Bila beberapa tahun lalu hanya kendaraan menengah ke atas yang dilengkapi kantong udara, kini mobil berharga Rp 170 jutaan telah menyandang alat keselamatan ini.

Memang peranti kantong udara di desain sebagai alat keselamatan tambahan dan bukan sebagai pengganti sabuk pengaman. Itu sebabnya kantong uda­ra oleh pabrikan mobil disebut sebagai alat Supplemental Restraint System (SRS). Efektivitas kantong udara akan berkurang bila pengemudi atau penumpang di depan tidak menggunakan sabuk pengaman.
Apa itu kantong udara? Perangkat ini didesain untuk melindungi penumpang ketika mobil terkena benturan sangat keras dari arah depan. Cara kerjanya adalah dengan mengembangkan kantong yang berisi semacam gas di depan pengemudi atau penumpang depan secara cepat. Peranti kantong udara bekerja dalam hitungan milidetik yaitu mampu bereaksi dengan kecepatan sekira 0,035 detik. Secara spesifik kantong udara ini melindungi kepala dan hantaman objek keras yang ada di dalam mobil, seperti kemudi mobil dan pecahan kaca depan.
Pengemudi yang tidak mengenakan sabuk pengaman saat terjadi kecelakaan akan terkena energi benturan, sehingga tubuh pun melonjak ke depan. Ketika itu peranti kantong udara yang mengembang bisa menonjok muka dengan keras. Sabuk pengaman menghalangi badan untuk maju ke depan sehingga tonjokkan kantong udara tidak mengenai muka atau badan dengan keras.
Pada umumnya sistem kantong udara yang dipasang pada mobil saat ini memakai teknologi yang mengandalkan sensor elektronik. Sistem ini mampu bereaksi lebih cepat dibandingkan teknologi konvensional yang dirintis pada tahun 1960-an. Pengemudi dan penumpang pun jadi lebih terlindungi saat terjadi kecelakaan.
Teknologi kantong udara pertama kali ditemukan pada tahun 1952 yang dikembangkan oleh Allen Breed dari AS. Peranti kantong udara yang pertama dipasang pada tahun 1967 untuk kendaraan buatan pabrik Chrysler. Karena masih belum terlalu maju teknologinya, pabrikan mobil Mercedes-Benz mendesain ulang peranti airbag dengan sistem kerja yang lebih baru. Teknologi baru ini mulai dipasang pada kendaraan buatan Jerman model W126 pada tahun 1980.
Sejak saat itu berbagai pabrikan mobil dunia mengembangkan teknologi peranti kantong udara. Teknologi masa kini sangat mengandalkan sensor elektronik yang berupa micro-electro-mechanical system accelerometer. Alat sensor ini mampu membaca kondisi deselerasi drastis yang terjadi pada saat kendaraan menabrak sesuatu di depannya. Lokasi penempatan alat sensor tidak sama pada setiap mobil. Umumnya terletak di bagian depan dan kabin, misalnya di sekitar bagian bawah tuas rem tangan. Sedangkan modul kantong udara khusus pengemudi ditempatkan pada bagian kemudi.
Secara umum cara kerja sistem kantong udara berdasarkan panduan pabrikan mobil Nissan, dibagi ke dalam lima langkah. Tahap pertama diawali dengan sensor yang mendeteksi adanya tabrakan dari arah depan. Selanjutnya pada tahap kedua, sinyal diteruskan sensor unit ke kantong udara. Gas pun disemburkan dari tabung dan kantong udara mengem­bang secara sangat cepat. Terakhir pada tahap kelima, setelah melindungi penumpang dari bahaya benturan saat tabrakan, kantong udara pun mengempis dengan sendirinya.
Teknologi kantong udara akan berfungsi dengan baik bila terjadi tabrakan frontal dengan kendaraan lain terutama dari arah berlawanan atau benda padat lainnya, misalnya dinding beton. Sistem kantong udara dirancang untuk bekerja normal ketika mobil dikendarai lebih dari 25 km/jam dengan kekuatan benturan tertentu. kantong udara baru berfungsi jika kunci kontak kendaraan berada pada posisi on.
Ada beberapa kondisi yang membuat sistem kantong udara standar di bagian depan atau frontal airbag tidak bekerja, yaitu ketika mobil menabrak tiang permanen tepat di bagian tengah. Kemudian, saat mobil masuk ke dalam luang besar atau selokan, mobil ditabrak dari bagian belakang, mobil yang terbalik, mobil menabrak dalam posisi miring, mobil ditabrak dari bagian belakang, dan mobil ditabrak untuk kedua kalinya. Alat kantong udara juga tidak bekerja saat mobil menabrak dan terjepit di bagian bawah bak truk.

Posted by: 3koari | February 25, 2008

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.